Kamis, 21 November 2019

Serangan Alien

Hasil gambar untuk alien
Cerpen Karangan: 
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)Cerpen Lucu (Humor)Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 August 2019
Di pagi yang tidak begitu cerah itu Ari bersiap-siap berangkat ke sekolahnya. “Bu, aku berangkat dulu ya”. Ari pamit kepada Ibunya. “Ya, hati-hati di jalan ya nak”.
Ari menaiki sepeda yang dimilikinya sejak smp kelas satu itu untuk berangkat ke sma, tetapi seperti biasa Ari pergi ke rumah Wawan teman sekelasnya untuk berangkat bersama karena Wawan juga naik sepeda.
“WAWAN!!!”. Ari memanggil Wawan.
“Iya sebentar, baru pake sepatu”. Sahut Wawan dari dalam rumah.
“Buruan, nanti telat!”. Kata Ari.
Mereka berangkat ke sekolah melalui jalan yang sama setiap harinya, tetapi tidak membosankan juga karena mereka melewati jalan yang kanan kirinya sawah, jadi udara pagi terasa agak sejuk walaupun banyak sepeda motor yang melewati jalan itu. Tetapi Ari merasa ada sesuatu yang aneh sewaktu mereka sampai di jalan dekat pabrik gula.
“Wan, lo ngerasa ada yang aneh gak sih?”. Tanya Ari.
“Apaan?”. Wawan tanya balik.
“Masa asap pabrik warnanya merah jambu?”. Tanya Ari keheranan.
“Lho, kan emang dari dulu warnanya kayak begitu”. Jawab Wawan.
“Perasaan kemaren warnanya masih hitam”. Ungkap Ari dalam hati.
Sampai di perempatan jalan raya dekat pabrik gula, Ari masih kepikiran asap pabrik gula tadi. Lalu terjadi kejadian aneh, terdengar suara gemuruh di langit seperti akan turun hujan tetapi tidak turun hujan, melainkan sebuah pesawat alien yang sangat besar ditemani pesawat pesawat kecil di sekelilingnya yang akan menginvasi bumi. Ari ketakutan dan menengok ke Wawan, ternyata wawan tidak ada dan pengguna jalan lainnya juga tidak ada, hanya ada Ari sendiri di perempatan itu menunggu lampu hijau rambu rambu lalu lintas, dengan cepat Ari lalu pulang ke rumah.
Dilihatnya rumah-rumah tetangga Ari saat menuju rumahnya tetapi tidak ada orang di sekitar kampung Ari, hanya ada ari sendiri saat itu, setelah sampai di rumah ternyata tidak ada orang juga di rumah, Ari lalu mengecek kamarnya ternyata ada dirinya sedang tidur di kasur, Ari kebingungan dan tiba-tiba ada seseorang yang datang dari belakang lalu menampar pipi Ari, ternyata orang itu adalah Ibu Ari yang membangunkan tidur Ari.
“Ari, bangun nak ini sudah jam enam!”. Ibu Ari membangunkan Ari.
“Lho, itu tadi cuma mimpi??”. Ari kebingungan.
“Cepetan bangun, nanti telat masuk sekolah!”. ucap Ibu Ari.
“Iya bu, siap!”. tegas Ari.
"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Nol derajat celcius

Hasil gambar untuk gambar celcius

Cerpen Karangan: 
Kategori: Cerpen CintaCerpen MisteriCerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 October 2019
Seorang gadis bernama leans cardova yang bersekolah tidak jauh dari tempat tinggalnya, ia anak yang sangat tomboy dan susah diatur namun dari sisi negatifnya itu ia juga memiliki sisi positif ia anak yang patuh terhadap orangtuanya dan juga sangat cekatan. Ini cerita pengalaman leans si gadis tomboy.
Terdengar suara dari bapak kepala sekolah “DIBERITAHUKAN UNTUK PERSERTA MAGANG HARAP KUMPUL DI LAPANGAN UNTUK SEGERA DIBERANGKATKAN”, siswa siswi kelas sebeles segera berkumpul, “lens sudah disiapin semua?” tanya teman sebaya leans “ya sudah tenang ajah!” seru lens menenangkan “SELURUH SISWA SISWI SILAHKAN MASUK KE BUSNYA PERJURUSAN” suara kepala sekolah terdengar lagi, lens dan teman sejurusannya masuk kedalam bus, dan bus siap untuk diberangkatkan.
Tiga jam pun berlalu, tak terasa bus sudah sampai di tempat magang, lens dan kedua temannya turun dari bus untuk diperkenalkan kepada pembimbingnya masing masing, teman yang lainnya masih menunggu di bus. Lens, rey dan tovan berkeliling melihat lihat, ketika lens berjalan bersama temannya lens terperangah melihat gedung bertingkat tetapi sudah tidak difungsikan lagi “buat apa dibangun kalau gak dipakai gedungnya kan sayang” keluh lens, tiba tiba terdengar suara dari depan kantor “sini lens, rey, tovan besok aja jalan jalannya ayo kita ke kos kalian” “bikin kaget aja tuh kepala sekolah!” gerutu lens sambil menuju ke arah kepala sekolah itu, lens dan teman temannya berjalan menuju bus.
Sesampai di kos kepala sekolah menjelaskan lagi “ini pak heru bapak kos kamu kalau butuh apa apa bilang pak heru, pak heru juga karyawan di kantor tadi” pak kepala sekolah melanjutkan kalimatnya “ya sudah kalau gitu pak heru titip anak siswi saya, saya tinggal dulu mau ngantar anak anak yang lain!” “iya pak hati hati!” jawab pak heru singkat, lens pun melambaikan tangan pada teman temannya dan bus itu segera berangkat. “ayo masuk!” seru pak heru, “mau pilih kamar yang mana tengah atau pinggir?” tanya pak heru pada lens “pinggir aja pak!” “ya sudah nak lens tata tata dulu barangnya kalau mau mandi itu ada kamar mandi di lantai bawah juga ada, kalau gitu bapak ke bawah dulu ya!” “iya pak trimakasih!” jawab lens dengan santai.
Seminggu sudah lens magang di tempat ini, lens berjalan dari kos hingga kantor, sesampainya lens duduk menunggu teman temannya datang, “lenz..?” teriak tovan dari kejauhan “ehh kemana aja sih lama banget datengnya?” jawab lenz dengan nada sewot “baru ditinggal sehari aja udah kangen sama kita kita hahah” rey berkomentar “iddiiiih ke-Pdan banget” jawab lenz dengan ketus “sudah sudah ayo kita tanya ke pembimbingnya tugas apa yang harus kita kerjakan?” kata tovan sambil berjalan menuju pembimbing, “permisi pak kita mau tanya tugas apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya tovan dengan sopan “kalian tunggu pak sam untuk membantunya memasukan benih ke dalam ruangan pengawetan benih” jelas bapak pembimbingnya “oke baiklah pak terimakasih” jawab tovan lagi, kemudian kami semua menunggu pak sam di depan greenhause, “ehh ada anak magang baru tuh!” seru rey “hey kalian anak magang baru ya di sini?” tanya tovan sok kenal “iya nih kalian dari sekolah mana?” tanya dari salah satu anak tersebut “dari SMK antrik surabaya, kalau kalian dari mana?”
“aku dari SMK jayahanda malang”
“berarti kalian gak ngekos dong?” tanya ku penasaran “ya tetep ngekos kan malang luas kayak surabaya” jawab Roy anak tercakep dari yang lainnya, “ehh kalian nunggu pak sam ya?” tanya roy lagi “ehh iya kok tau?” jawab tovan seenaknya “karna kita semua disuruh nunggu pak sam juga, oh ya perkenalkan aku roy ini temanku vian dan satunya lagi di sebelahnya vian itu velix” “perkenalkan juga ini rey teman ku dari kecil dan yang tengah ini lenz” semuanya bersalaman untuk saling mengenal “oh iya nanti malem yuk kumpul di alun alun kan deket tuh kita sering nongkrong di alun alun kalau gak lagi buat laporan magang” ajak roy “boleh juga tuhh” jawab tovan antusias, “oke entar malem ya guys” seru rey meyakinkan.
Sesampai di ruang pengawetan bibit “uhhh dingin banget” seru lens, seseorang paruh baya yang sangat tegas menjelaskan fungsi fungsi dari alat alat yang ku belum tau namanya “Ini tempat untuk memasukan benih yang sama atau sejenis agar waktu mengambilnya mudah dan ruangan ini dinginnya mencapai 10 derajat celcius ruangan ini dingin dan yang paling dingin di sini kita tidak boleh berlama lama di sini karena bahaya jika jantung kita membeku karna ruanagan ini berbeda di sini 0 derajat celcius seperti di kutub utara” jelas pak sam, ku berjalan tak sengaja ku menginjak sebuah cincin berwarna perak dan berhiaskan bunga, aku pun langsung mencoba memakainya, ketika kupakai sesuatu terjadi aku seperti merasa pusing dan akhirnya.
“aku di mana?” tanyaku kebingungan “kau tadi pingsan dan sekarang kita di ruang kesehatan” jelas roy “yang lain kemana?” “yang lain dikasih tugas sama pak sam aku disuruh nungguin kamu sampe sadar, ohh ya kenapa kamu bisa pingsan emang udah sering ya kamu kayak gini?” tanya roy penasaran “entah setiap aku megang barang yang aneh aku selalu begini dan selalu ada orang meminta pertolonganku, tadi aku seperti mimpi aku melihat seorang gadis terperangkap di dalam ruang pengawetan benih, gadis itu meminta pertolonganku aku melihat gadis itu memakai cincin ini” terangku meyakinkan roy “ahh itu mungkin hanya imajinasimu aja lenz kamu kelelahan jadi mikir aneh aneh udah tenag ya kan sekarang ada aku yang jagain kamu” sambil mengacak acak rambutku, aku pun tertunduk karena tersipu.
Malam pun tiba teman temanku menyusulku di tempat kos “pak lens pamit ya mau keluar sama temen temen ke alun alun” “iya nak lens jagan malam malam ya” “oke pak” kemudian kami semua berangkat.
“ehh lens diem aja?” roy mengejutkanku, aku hanya melihatnya tanpa ada respon “kamu mikir hal yang tadi ya lens udah jagan difikir” roy menenangkanku “oww lans pinsan lagi karena memegang suatu benda udah sering terjadi” tovan berpendapat “loh kamu tau van?” tanya roy “aku dan rey sudah tau karena kita sudah bersahabat setahun waktu cukup lama untuk mengenal lens”
“aku tadi bermimpi bertemu gadis itu lagi dia meminta tolong kepadaku tapi aku tak tau gadis itu minta tolong apa tapi ada dua cincin seperti ini dan aku hanya mempunyai satu”
“bagaimana kalau kita cari cincin satunya kita ke tempat magang sekarang” usul tovan dengan antusias “tapi kan tempat magang jam segini sudah ditutup” velix berpendapat “kita panjat aja pagernya lagian kalau ketahuan pak satpamnya aku kenal kok kita izin mau ngambil seseatu yang tertinggal di ruang pengawetan benih” usul roy “ide bagus tuhh” rey berpendapat, akhirnya kita semua berangkat ke tempat magang malam hari.
Sesampainya “lohh kok banyak lorongnya ya?, perasaan tadi siang kita ke sini gak ada lorong sepanjang ini” vian berpendapat, tiba tiba lampu lorong mati bergiliran kami pun semua lari ketakutan dan akhirnya berpencar, cuma aku dan roy yang tidak berpisah yang lain entah kemana, roy memelukku di bawah meja dan menggenggam tanganku erat, “ini ruangan pengawetan benih ayo ke sini” ajakku, aku berusaha mencari cincin itu sesekali roy memelukku untuk menghangatkan tubuhku yang kedinginan.
“yes dapat” tiba tiba pintu ruang pengawetan benih terkunci aku dan roy mencoba membukaya tapi hasilnya sia sia, di sudut ruanagan ada sosok cahaya, kutajamkan mataku untuk melihat apakah cahaya tersebut dan dari mana, ternyata cahaya itu adalah gadis yang selalu ada di mimpiku, gadis itu memanggil namaku dan tersenyum gadis itu semakin mendekat dan mendekat dan kemudian aku seperti masuk ke dalam tahun yang sudah lampau, aku melihat gadis itu sedang magang dengan temannya lalu temannya menyuruhnya untuk ke ruangan pengawetan benih untuk meletakan benih yang tersisa kemudian gadis itu dikunci di dalam ruang benih, gadis itu berteriak minta tolong tapi tak ada satupun orang yang melewati ruangan pengawetan benih karena waktu sudah menjelang malam gadis itu meringkuk di balik pintu sambil berharap ada seseorang yang mau membukakan pintu untuknya, gadis itu memegang dua cincin yang berinisial A&J [ANGEL & JEREMY] malam itu malam anniversary angel dan jeremy setap anniversary angel dan jeremy bertukar kado tapi angel terkurung dan jeremy menunggunya di depan kantor magang dan akhirnya jeremy pergi karena jeremy mengira angel lupa akan moment spesialnya.
Gadis itu melepaskan pegangannya dan aku kembali ke duniaku dunia yang sebenanya, tapi masih terdapat gadis itu tepat di depanku gadis itu berkata “kau sudah tau semua lens tolonglah aku untuk memberikan kedua cincin itu kepada jeremy dan tolong bilang kepadanya bahwa meskipun dunia kita sudah berbeda aku tetap akan mencintainya” aku pun mengangguk anggukkan kepalaku, tiba tiba pintu terbuka aku dan roy langsung berlari keluar dan kutemui teman temanku yang sedang menunggu di luar sana.
Keesokan harinya aku dan roy tidak masuk magang izin satu hari untuk mencari jeremy, “ohh ya aku tadi malam mimpiin angel lagi katanya jeremy setiap hari melewati tempat magang kita tunggu di bawah pohon itu ya?” kataku sambil menunjuk ke arah pohon yang rindang di pinggir jalan, tak lama kemudian ada seseorang pemuda memakai baju putih sedang melihat ke arah kantor “itu bukannya jeremy lens?” tanya roy “mungkin sih ayo coba kita tanya, kami pun berjalan ke arah pemuda itu “hey apakah kamu yang bernama jeremy?” tanya roy memastikan “iya benar saya jeremy anda ini siapa kok bisa mengenali saya?” aku pun langsung menjawab pertanyaan jeremy dan menjelaskan semua tentang angel “kamu pasti jeremy pacar angel kan aku tau itu dari angel, angel menitipkan cincin ini untukmu dan satu untuk angel tapi angel sudah tidak ada di dunia ini lagi angel memberi salam kepadamu katanya angel akan tetap mencintaimu meskipun berada di dunia yang berbeda”
“anggel meninggal maksud kamu?” tanya jeremy memastikan
“iya angel meninggal karna tiga tahun lalu waktu angel magang di sini angel terkunci di dalam ruang pengawetan benih yang sangat dingin angel meninggal karena ulah teman magangnya, temannya mengunci angel di dalam ruangan itu hingga angel meninggal” jelasku, jeremy pun tertunduk dan menangis sambil melihat cincin tersebut, akhirnya aku dan roy pergi meninggalkan jeremy untuk kembali ke kos.
Setelah sampai kos aku dikejutkan oleh penampakan angel lagi “terimakasih lens kamu adalah anak yang baik” kemudian angel menghilang ditelan angin, aku hanya tersenyum mendengar perkataan angel, “huuftz akhirnya selesai juga”
“lens aku boleh ngomong sesuatu gak?” tanya roy dengan expresi gugup “iya tanya aja roy?” jawabku santai “aku tau ini sangat cepat untuk mengatakan ini tapi semenjak aku kenal kamu aku sudah menyukaimu lens apakah aku boleh menjadi kekasihmu?”
“suka gak berarti cinta roy, pertemanan gak akan pernah putus tapi kalau cinta mungkin hanya senang di awal dan akhirnya pasti akan menderita kita cukup menjadi teman baik karna aku juga menyanyangimu jadi aku tidak mau putus hubungan denganmu” jawabku dengan wajah meyakinkan “baiklah lens kalau itu memang keputusanmu, terimakasih kamu sudah hadir dalam hidupku” kata roy sambil memelukku erat “kau adalah teman yang paling aku sayang” tambahnya.
THE END

Hari Libur

Hasil gambar untuk gambar libur

Pembagian rapot pun sudah dilaksanakan kemarin di sekolah. Dan pada pembagian rapot kemarin, aku dinyatakan naik ke kelas XII dengan nilai yang cukup baik. Meskipun aku tidak masuk rangking, aku tetap senang karena bagiku yang penting adalah aku naik kelas dan tidak diremedial. Karena pembagian rapot telah usai, maka aku pun bisa menikmati liburan panjang yang menyenangkan.
Sudah terbayang olehku bahwa liburan kenaikan kelas kali ini, Ayah dan Ibu akan mengajakku berlibur ke tempat wisata yang menyenangkan seperti biasanya. Bahkan, aku sudah menyiapkan baju dan perlengkapan lainnya sejak jauh-jauh hari. Kali ini aku akan berlibur kemana ya? Tanyaku dalam hati yang kemudian aku jawab Ah, kemanapun itu, yang penting liburanku menyenangkan!
Aku pun lalu menemui Ibu dan Ayahku yang kebetulan sedang di meja makan. Lantas aku pun bertanya, “Ayah, Ibu, liburan kali ini kita akan kemana?” Setelah mendengar pertanyaanku, Ayah dan Ibu kemudian saling pandang, dan kemudian Ayah pun berkata, “Nak, kali ini kamu liburan sama Ibu di rumah, ya. Soalnya, Ayah kali ini sedang ada tugas di luar kota. Nanti kalau ada waktu libur lagi, Ayah janji kita akan berlibur lagi seperti biasa.” Sejujurnya aku kecewa mendengar pernyataan itu. Namun, mau bagaimana lagi, aku hanya bisa menerima keputusan dari Ayahku.
Hari-hari liburku pun hanya bisa kulewati di rumah saja. Sebetulya, aku ingin sesekali pergi ke luar rumah, entah itu sendirian ataupun bersama teman. Namun sayangnya, Ibuku melarang dan aku pun malah disuruhnya membantu setiap pekerjaan rumah. Kalaupun aku ke luar rumah, biasanya hanya ke pasar saja, itu pun juga ditemani oleh Ibu.
Ibuku berkata bahwa aku tidak boleh keluar rumah karena Ibu ingin mengajariku cara mengurus rumah, memasak, mencuci, dan menyetrika baju selama liburan sekolah. Ibu mengajariku hal-hal tersebut agar aku bisa mandiri jika suatu saat nanti aku kuliah atau bekerja di perantauan.
Selain mengajarkan hal-hal tersebut, Ibu juga ingin supaya aku fokus belajar di rumah guna menyambut ujian nasional dan sejumlah ujan lain yang akan aku hadapi nanti. Jujur saja, aku sebetulnya ingin menolak apa yang Ibu lakukan kepadaku. Namun, apa boleh buat, aku hanya bisa menerima dan mengikuti saja apa yang Ibu perintahkan kepadaku.
Pada suatu sore, Ibu tiba-tiba mengetuk pintu kamarku. Aku pun membuka pintu dan berujar, “Ada apa, Bu?”
“Kamu sekarang mandi. Ibu tunggu di luar.” “Loh, kita memang mau kemana, Bu?”
“Ibu mau ajak kamu ke taman kota. Ya, hitung-hitung liburan lah, masa mau di rumah terus?”
“Hah, yang betul? Baiklah kalau begitu, akumandi dulu ya, Bu.”
Setelah mandi, aku dan Ibu pun kemudian bergegas ke taman kota. Meskipun hanya berjalan-jalan di sekitar taman kota, namun entah mengapa aku merasa sangat senang. Entah mungkin karena beberapa hari kemarin terlalu lama di rumah, atau mungkin karena ini pertama kalinya aku berjalan-jalan di taman ini sekian lama. Atau, mungkin juga karena ini adalah liburan pertamaku bersama Ibuku saja. Ah, apapun itu, yang jelas aku akan menikmati suasana menyenangkan ini.

Persahabatan berawal dari permusuhan


Hasil gambar untuk gambar persahabatan
Sahabat selalu ada saat kita membutuhkannya, menemani kita saat kita kesepian, ikut tersenyum saat kita bahagia, bahkan rela mengalah padahal hati kecilnya menangis. Kita tak pernah tahu kapan dan melalui peristiwa apa kita bisa menemukan seorang sahabat.Mungkin ada persahabatan yang berawal dari perkelahian.
Kring...kring...kring,si penunjuk waktu membangunkan ku. Aku pun bergegas untuk bangun, merapikan tempat tidur dan mandi.
‘’I Feel Good...!’’aku bernyanyi nyaring didalam kamar mandi. Untuk memuaskan keinginanku yang tak kesampaian menjadi seorang penyanyi terkenal.
Setelah selesai mandi, aku memakai seragam dengan rapi dan menyisir rambut. Saat sedang asyik menyisir rambut, tiba tiba terdengar suatu suara dari arah dapur.
‘’ jangan berlama lama sisirannya !ayo cepat kamu sarapan’’ternyata itu adalah mahluk paling cerewet di bumu ini, namun ia sangat kusayangi. Itulah mamaku. Tak terbayang oleh ku saat dalam kandungan, ia selalu membawaku kemana mana, tak pernah aku ditinggalkannya.
Tiba didapur, kulihat makanan favoritku terhidang dimeja makan, yaitu gulai ayam.”nyam nyam enak banget gulai ayamnya ma jika ada kontes masak memasak gulai,mama pasti menang” pujiku kepada mama sambil melahap makananku. “hahaha... bisa saja kamu ini” jawab mama sambil tersenyum simpul kepadaku.

Waktu telah menunjukan pukul 06.30wib, saatnya untuk berangkat kesekolah. Tak lupa aku membawa topi upacara dan memasukkanya kedalam tas, karena saat ini adalah hari senin. Namum baru saja mau melangkah keluar rumah, ada suara itu lagi terdengar (suara mama).” Eits....!jangan langsung pergi, pamitan dulu pada mama” ucap mama dengan tegas sambil menjulurkan tangan kanannya.
“oh iya, aku lupa” aku pun menyalam tangan mama dan berpamiran untuk berangkat sekolah.” Hati hati dijalan ya nak “ seru mama dari depan pintu rumah . “iya ma” jawabku

Kutelusuri jalan denagn seorang diri. Sambil berjalan aku bernyanyi dengan sendu . “ makan- makan sendiri, cuci piring sendiri, ke sekolah jalan sendiri , pulangnya juga sendiri.

Setelah lama berjalan, akhirnya aku sampai disekolah.







Sebelum awal kesuksesan

Hasil gambar untuk gambar sukses
Cerpen Karangan: 
Kategori: Cerpen PendidikanCerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 July 2019
Saat itu masa masuk sekolah, semua sibuk menanti pengumuman. Sedangkan adi si idiot itu duduk di depan sebuah ruang kosong yang lama tidak digunakan, dia duduk dan membaca sebuah buku yang tebal.
Dia memang sangat terkenal dengan sifatnya yang pendiam dan cenderung menyendiri, dia selalu membawa satu buah buku di tangannya. Saat ujian penentuan kelulusan kemarin dia mendapat nilai tertinggi di kelas, waktu itu ada seorang anak yang datang terlambat mengikuti ujian, andre begitulah semua memanggilnya, dia memang suka berangkat terlambat.
“Tok… tok… tok…!. Assalamualaikum… boleh saya masuk pak?” suara pintu kelas terketuk di lanjutkan dengan suara di balik pintu itu.
“Walaikumsalam… siapa ya?”. Tanya guru pengawas yang tengah duduk di mejanya.
“Saya pak, Andre!”. jawabnya dengan lantang.
“Ya, silahkan masuk”. Jawab pak guru, dan mempersilahkannya masuk.

Dari sudut tempat aku duduk terlihat andre yang tegang dan buru buru karena waktunya akan habis, banyak keringat yang menetes di mejanya, sedang si idiot itu terlihat tenang dan santai.Dengan cepat andre masuk dan segera mengambil selembar kertas ujian, dengan cepat ia duduk dan mengerjakan, karena waktu hampir habis.
“lima menit lagi anak anak!”. Suara itu memberikan tanda bahwa waktu hampir habis.
Dan benar setelah lima menit bel berbunyi.
“Kring… kring… kring…”. Bel petanda selesainya ujian kini benar benar berbunyi, semua peserta ujian menyerukan suaranya.
“Hore…, akhirnya ujian selesai”. Sementara anak itu masih mengerjakan ujian dengan terburu buru.
“Waktunya selesai anak anak. Semua kumpulkan kertas ujiannya di depan!”. Perintah pak guru.
“Baik pak…”. Sahut semua peserta ujian. Kecuali si idiot itu ia tidak berkata apa apa dari tadi. Semua segera mengumpulkan kertas ujiannya di meja guru pengawas.
Setelah ujian waktu itu, semua siswa sibuk mennggu hasil ujian yang akan diumumkan besok.
“Mungkinkah aku lulus?”. Tanyaku di dalam hati. Akhirnya waktu yang ditunggu datang juga, hari itu tiba semua siswa datang ke sekolah dan tertuju pada sebuah ruangan tempat pengumuman kelulusan. Tiba di sana semua rasa tercampur jadi satu.
“Duk… duk… duk…”. Suara langkah kaki terdengar mendekati ruangan ini, semakin lama semakin keras.
“Ya alloh…, semoga lulus”. Suara harapan itu terus terdengar, semua menunggu hasilnya sementara si idiot itu tampak duduk menyendiri, dan tidak menghiraukan semua yang ada di ruangan itu.
Langkah kaki itu terhenti, tampak salah guruku di depan.
“Selamat pagi anak anak!”. Sapanya kepada semua siswa.
“Selamat pagi pak!”. Sahut semua siswa dengan lantang.
Tanpa banyak bicara lagi pak guru langsung membuka secarik kertas hasil ujian kemarin. Akhirnya, semua perjuangan selama ini akan ditentukan hari ini.
“Semua peserta ujian dinyatakan lulus semua”. Ujar pak guru, setelah membaca hasil ujian.
“Alhamdulillah…”. Semua menyerukan kata yang sama diruangan itu.
“Baiklah anak anak. Untuk juara III diraih oleh… stevan!. Juara I dan juara ke II diraih oleh adi dan andre!. Untuk peraih juara I, II dan III selamat untuk kalian”.
Semua siswa terdiam dan tampak heran, bagaimana tidak pasalnya stevan anaknya cupu, andre dia suka terlambat berangkat sekolah, dan adi si idiot itu dia tidak pernah bersosialisasi dengan teman temannya. Sedangkan aku berada pada peringkat ke IV dibawah anak cupu itu.
Setelah pengumuman semua kembali pulang ke rumah masing masing, aku yang masih merasa aneh dengan hasil ujian yang disampaikan pak guru terus memikirkannya sampai di rumah. Mungkin itulah hasil kerja keras mereka selama ini, yang semua orang tidak tahu. Dan dari pengalaman yang aku alami aku bisa belajar untuk lebih menghargai orang dan tidak menggapnya sebelah mata.
"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"